1.
Cintai Indonesia = Cintai bumi
Hal ini sudah menjadi isu besar di seluruh belahan
dunia. Berbagai kongres atau perjanjian dibuat oleh beberapa negara untuk
menjaga kelangsungan bumi ini. Isu utama antara lain mengurangi emisi gas
karbon dioksida. Seluruh aktivitas yang mengkonsumsi bahan bakar dan energi
listrik, penggunaan kertas, sampah organik maupun an organik yang dihasilkan
manusia, konsumsi air minum dalam kemasan, penggunaan kantong plastik dan lain
sebagainya menghasilkan emisi karbon. Adalah hal yang harus kita berikan balik
ke bumi atas jasa baik bumi yang memberikan ruang atmosfer untuk menampung
jejak karbon manusia. Namun kini kondisi bumi sudah sangat kritis. Kadar CO2
sudah mencapai 392 ppm yang jauh melampai ambang batasnya agar kondisi aman
yaitu 350 ppm (co2now.org).
Untuk itu komitmen perubahan yang akan saya lakukan
untuk mengurangi jejak karbon saya :
a.
Mematikan lampu jika meninggalkan ruangan /
kamar.
Mematikan lampu selama satu jam yang
berdaya 20 Watt jumlah jejak karbon yang kita kurangi adalah 17,8 gram CO2.
b.
Mencabut colokan listrik.
Mencabut colokan listrik, mematikan
semua peralatan elektronik, dan tidak meninggalkannya dalam keadaan stand by
dapat menghemat energi hingga 10%.
c.
Menggunakan transportasi umum.
Jumlah emisi yang dihasilkan
perjalanan menggunakan kendaraan umum adalah 0,19 gram CO2 per km dibandingkan
dengan kendaraan pribadi sebesar 1,4 gram CO2. Memilih berjalan kaki
dibandingkan dengan menggunakan jasa ojek jika jarak tidak terlalu jauh.
d.
Menggunakan tas atau kantung sendiri untuk
belanja.
Beberapa minimarket atau supermarket
menjual tas belanja untuk mendukung langkah penyelatamatan bumi ini. Hanya saja
sepertinya tidak terlalu booming. Hal ini mungkin dikarenakan keharusan untuk
membayar sejumlah rupiah untuk bisa memiliki tas ini. Saya sendiri pun belum
memiliki tas seperti ini, upaya pembatasan kantung plastik yang sudah saya
lakukan hanyalah sebatas menolak penggunaan kantung ketika belanja
barang-barang yang masih bisa dimasukkan dalam tas.
e.
Menggunakan tempat minum dan tempat makan
sendiri.
Minum air mineral untuk hidup sehat
ternyata belum lengkap karena jika kita banyak mengkonsumsi air minum kemasan
maka sampah plastik dari kemasan juga akan semakin banyak. Jadi seharusnya kita
membawa tempat minum dan tempat makan sendiri jika bepergian. Selain sehat,
murah, dan yang pasti ramah lingkungan.
f.
Mengurangi konsumsi daging
Fakta yang baru saya dapat. Dengan
mengurangi konsumsi daging berarti kita mengurangi gas methana yang dihasilkan
dari kegiatan peternakan maupun dari produk daging tersebut. Organisasi Pangan
dan Pertanian Dunia (FAO) pada tahun 2006 menyatakan bahwa sektor peternakan
dunia menyumbang 37% gas methana (72
kali lebih kuat daripada CO2 untuk potensi pemanasan global selama rentang
waktu 20 tahun) dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).
Seringkali kegiatan peternakan dilakukan dengan menebang hutan seperti yang
terjadi di hutan Amazon Brasil dan di negara-negara berkembang lainnya.
g.
Menggunakan kertas print dengan bolak-balik dan
menggunakan kertas bekas.
Hal ini sebenarnya agak sulit
dilakukan di kantor (mengingat mayoritas penggunakan kertas untuk file-file
kantor). Yang paling mungkin dilakukan adalah memastikan file yang ingin kita
cetak sudah benar. Hal ini untuk menghindari pencetakan ulang yang hanya akan
membuang-buang kertas. Menggunakan kertas bekas untuk mencetak draft atau bahan
kuliah. Menggunakan fasilitas transfer data secara digital dibanding dengan
membuat hard copy-nya.
h.
Mengolah limbah
Limbah yang saya tekankan disini bukan limbah rumah tangga,
tetapi limbah industri, secara khusus limbah lab. Sebagai analis kimia yang
menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat membahayakan lingkungan, perilaku kita
terhadap limbah harus diperhatikan. Beruntung tempat saya bekerja sangat
memperhatikan masalah ini. Limbah organik maupun anorganik ditampung pada
wadahnya untuk kemudian diolah pada pihak ketiga. Tidak ada yang dibuang
sembarangan ke wastafel.
2. Cinta
Indonesia = Cinta Produk Indonesia
Membeli produk buatan negeri sendiri. Sulit ? hal ini mungkin
diakibatkan produk dari negeri sendiri kurang diperhatikan mutu dan pelayanan
purna jualnya oleh produsen (http://todosibuea.posterous.com/cintailah-konsumen-dalam-negericinta-produk-d).
Penggunaan
produk indonesia yang bisa dilakukan saya saat ini adalah menggunakan sepatu
atau tas buatan anak negeri.
3. Cinta
Indonesia = Cinta Musisi Dalam Negeri
Jangan bilang anda mendukung musisi dalam negeri, bila masih
membeli CD bajakan atau mengunduh secara ilegal. Hidup musisi dalam negeri J
!
4. Cinta
Indonesia = Cinta Budaya Indonesia
Hal paling sederhana yang dapat dilakukan adalah menggunakan
batik. Mungkin ini hanya “kulit” dari
wujud nasionalisme. Tetapi membiasakan menggunakan batik setidaknya satu minggu
sekali dapat terus mengingatkan kita pada kekayaan budaya bangsa Indonesia.
5. Cinta
Indonesia = Cinta Pemerintah
Cinta pemerintah yang saya maksud pada point ini adalah
mendukung program pemerintah yang ditujukan untuk membangun negeri. Memang saat
ini semua kebijakan pemerintah dianggap miring oleh masyarakat karena banyaknya
penyalahgunaan kebijakan yang ujung-ujungnya untuk mencari keuntungan sendiri. Tapi
kita sebagai warna negara yang baik juga dituntut bijak dalam mengikuti
peraturan, seperti membayar pajak,dll. Selalu lebih mudah berdiri di pinggir
lapangan dan mengomentari tiap detik pertandingan dibandingkan dengan turun ke
lapangan. Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik pemerintah, tapi sebaiknya
kita juga memberikan solusi atau setidaknya melakukan hal yang berguna sesuai
dengan profesi kita. Sebagai mahasiswa seharusnya tidak hanya gaul dalam urusan
musik, film, fashion, atau gadget tapi juga harus update untuk urusan masalah-masalah yang sedang dialami negara.
Ilmu yang kita dapatkan pada masa pendidikan seharusnya diamalkan untuk
kebaikan negara. Jangan ragu menjadi wakil rakyat dengan catatan melakukannya
dengan nurani yang tulus.
Point-point yang dikemukan di atas mungkin terlalu idealis
tetapi tak ada yang tak mungkin jika kita terus berusaha. Tetap optimis.
Perubahan besar diawali oleh perubahan-perubahan kecil.
Untuk
Indonesia yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar