Perusahaan yang baik tentu daja memperhatikan hal ini. Tidak hanya mencari untung tetapi perusahaan seharusnya memberikan kesejahteraan untuk karyawannya.
Hal di atas mungkin tidak mudah ditemui karena menurut Bapak Dosen hanya 20% perusahaan di Indo yang memikirkan secara long term. Bagaimana dengan pendapat saya ?
Kalau menurut saya, kebanyakan perusahaan mungkin lebih mengarahkan kesejahteraan pada papan atas karyawannya. Golongan direksi atau manager mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik dibanding karyawan biasa.
Hal ini saya dapatkan di suatu perusahaan tempat saya mengabdikan diri selama 2 tahun. Status karyawan tetap dari perusahaan asal Islandia itu tidak membuat saya berpikir untuk menghabiskan usia produktif saya disana. Pemberian upah sangat "kebanting". Gaji untuk kalangan Spv ke baweah tergolong kecil dibandingkan perusahaan lain tapi manager ke atas kemungkinan di atas rata-rata. Hemm apa anda berpikir saya mulai bergosip? Serius deh, emnag gosipnya gitu :p
Intinya permohonan untuk menaikkan gaji karyawan sangat sulit, padahal pressurenya berat. kami selalu dituntut hasil yang kilat dan bagus tanpa menerima apresiasi. Untuk saya sedikit meeting untuk mereview apa saja yang sudah kami capai akan membantu kami menaikkan semangat dibanding dengan mengomel terus membahas kesalahan2 yang etrjadi. Meeting jadi terasa seperti memutar kaset rusak, karena hanya membahas hala-hal itu saja yang kebanyakan meminta kami bekerja dengan bersih dan rapi.
Lau bagaimana dengan HR-nya ? Dengan segala hormat saya harus memberikan thumbs down untuk kinerja sang Manager, sebut saja Bapak X. Banyak blunder yang sudah dilakukan oleh Beliau. Saya menilai HRD kurang cakap dalam merangkul karyawannya, bahkan terkesan merendahkan. Hal ini berakibat munculnya sakit hati di antara teman-teman saya.
Kejadian itu bermula saat teman saya, R, mengajukan komplain tentang Jamsostek. Dari laporan pembayaran Jamsostek untuk karyawan terdapat minus hingga 1 tahun masa kerja. Maka R pun dipanggil HRD untuk meeting dengan perusahaan outsourching yang menangani administrasinya (dia masih berstatus karyawan kontrak). Dan disinilah blunder itu dimulai ...
R : Jadi gimana nih Pak?
O (outsourch) : Kami minta maaf pak, akan kami bayaran selisihnya ke rekening Jamsostek bapak..
R : Ya tapi kan saya jadi rugi 1 tahun Pak, yang mestinya diambil tahun kelima malah jadi tahun keenam ..
X : Itu kan cuma masalah waktu ....
hemmm... kata=kata yang seharusnya tidak dikatakan seorang manager HRD ke karywannya yang sedang merugi kan ? Yah silakan anda sendiri yang menilai ...
Blunder terus berlanjut ...
Latar Belakang :
Perusahaan ini menggunakan 2 Outsourching, PT. B & PT. S. Menurut pengalaman PT.S sering bermasalah dalam penggajian (tapi entah kenpa tetap digunakan). R ini sepertinya memang sudah ditimpa sial sejak awal bergabung denagn perusahan itu. Dia mendapat gaji lebih kecil dibanding teman seangkatannya yang masuk hanya selang 2 bulan. Dan kebetulan R juga masuk outsourching S.
R ; Pak, kenapa kkita mesti pake 2 perusahaan outsourching ? Kenapa ga 1 aja Pak?
X : Kenapa jadi kamu yang ngatur ? Sakarepkuu ...
(saya sih sebenernya ga terlalu ngerti artinya, tapi katanya rada gimana gitu kesannya ... )
Ada beberapa blunder lagi tapi saya tidak tega menulisnya, hehehe ...
Tapi kasus yang paling fenomenal lagi adalah tidak dibayarnya uang shift 3 kepada anailis sesuai perjanjian. Sebagai ganti uang itu HR memberi kebijkan untuk memberikan cuti kepada analis2 yang bersangkutan. Tetap saja bukan upah yang sepadan (menurut daya loh ya .. )
Mengenai ini spv angkat bicara. Beliau sempat "mengancam" jika uang shift tidak dibayarkan maka akan membuat analis-analis marah dan akhirnya resign.
" Yasudah resign daja, kan gampang nyari analis " begitulah tanggapan Bapak Manager.
Saya yang saat itu sedang galau anatra ingin resign atau tidak, semakin mantap untuk meningglkan perusahaan itu. Banyak korban sakit hati yang juga memutuskan keluar. Hasilnya 8 orang analis keluar dalam waktu kurang dari 3 bulan. Apa hal ini berimbas pada HR ? Mungkin ya, karena ketika surat pengunduran diri saya masuk ke HR, Bapak M - HR bagian training (yang jauh lebih ramah dari Bpk. X) menelepon untuk menanyakan masalah yang terjadi dan hal apa saja yang harus mereka improve.
Saat ini sih saya dengar beberapa perubahan terjadi. Fasilitas/ salary lebih diperhatikan. Mungkin rekor "rontok" terbanyak analis menjadi shock teraphy.
Setiap perusahaan seharusnya memandang setiap karyawannya sebagai aset berharga yang harus dijaga. Toh mereka tidak merekrut sembarang orang untuk dipekerjakan kan ? Jadi kenapa begitu dulit menerima tetapi segitu gampangnya dilepas ? Menara yang tinggi pun perlu "bawahan" yang kuat.
Apresiasi jangan hanya diberikan kepada kepala saja tapi juga harus diteruskan ke anggota tubuh lain agar semuanya merasa dihargai sebagai tim untuk meraih visi perusahaan. Benar kan sodara-sodara ? :)